Sejarah Gereja Sidang Jemaat Batu Tulis

Jakarta, Pasca Perang Dunia II

Dalam situasi yang membingungkan, mendaratlah beberapa orang Misionaris – Utusan Injil Amerika di Jakarta. Mereka diutus oleh Departemen Luar Negeri BPP GSJA USA. Tiga dari Misionaris ini, sebelum perang dulu, sudah berkeliling di bumi persada. Ketika perang meletus, mereka harus pulang kampung, jadi setidaknya sudah paham liku-liku keadaan tanah air. Di Indonesia mereka bergabung di bawah mentorship dari Bethel Temple Mission.

Rev. Raymond A. Busby & Mrs. Beryl Busby

Salah satunya Rev. Raymond Arthur Busby. Tinggi besar, ganteng tapi kepala plontos Salah satu profesi sebelum jadi Hamba Tuhan asal Texas ini, adalah menjadi Badut/Clown. Ia jago bermain alat musik Banyo, semacam gitar bundar; dan suaranya pun enak didengar. Kelak, urusan main Banyo dan nyanyi merdu jadi bekal dalam penggembalaan.

Mari mundur beberapa tahun sebelum Perang Dunia meletus. Adalah Ralph Mitchel Devin – juragan furniture (seperti Presiden Jokowi yah?) punya isteri bernama Edna. Suami – isteri ini rasakan desakan kuat dari panggilan Yang Maha Mulia untuk berkiprah di Hindia Belanda – nama Indonesia semasa penjajahan. Jadi bisnis ditinggalkan dan mereka naik kapal ke khatulistiwa.

Ibu Edna ini punya penyakit kulit menahun. Tabib Amerika ternama angkat tangan. Belum ada obat. Ketika kapal baru angkat sauh dan mulai perjalanan, sebuah mujijat terjadi mengagumkan. Penyakit sirna, kulit jadi mulus dan tak pernah kambuh kembali. Pasangan ini jadikan Ambon sebagai pusat pelayanan mereka. Beberapa tahun kemudian, mereka mengikat kerja sama dengan Pdt. Busby, dan nuansa pelayanan lebih jelas Sidang Jemaat Allah nya.

Isteri Pdt. Busby namanya Beryl. Sejak kanak-kanak sudah rasa panggilan Tuhan. Usia 9 tahun, ia dapat penglihatan. Ada wanita pakai kostum baju aneh… Nah jaman dulu belum ada Google, hingga beliau tak mengerti jenis kostum aneh itu. Kelak, saat menginjak Tanah Karo Sumatera Utara, terkaget – kaget – aneka ragam pakaian wanita Karo adalah yang selama ini ia ingat, muncul dalam penglihatan dahulu kala… 1946 – Pdt. Busby dan ibu Beryl mulai pelayanan di Jl. Pecenongan 54, Jakarta Pusat.

Bersama mereka ada siswi Sekolah Alkitab baru lulus bernama Margareth Brown. Noni ini juga sudah yakin akan panggilan melayani di daerah Tropis. Apa daya tubuhnya tidak beres. Ada kelainan Jantung kronis yang sering bikin ia megap-megap cari oksigen. Kalau Tuhan sudah merencanakan, semua harus tunduk beri hormat. Secara adikodrati, jantung Margareth ini sembuh mendadak. Dengan gembira ia ikut dengan keluarga Busby.

Pecenongan 54 bukan rumah penduduk. Sudah sejak tahun 1922 lama ada kebaktian di situ, dilayani Pdt. Richard (Dick) Van Klavern dengan nama Pinkster Gemeente. Bermula kebaktian sederhana di Gang Ahang, Pecenongan. Rupanya ada hubungan baik dan jemaat senang dengan pelayanan koboi Texas pemain Banyo, hingga saat Pdt. Van Klavern wafat (1944) – Pelayanan diteruskan Pdt. Busby. Nah, ada masalah kecil di sini. Denominasi Van Klavern, Bethel Temple – belakangan menjadi GpdI be-ti Beda Tipis dengan Sidang Jemaat Allah. Banyak pihak kemudian setuju memakai plang nama Assemblies of God yang kemudian bernama Sidang Jemaat Allah.

 

GSJA Pecenongan 54 – Jakarta Bible Institute

Sejak 1946, mulailah Gereja ini berkembang. Jemaat KU I pukul 10.00 sekitar 200 orang, dan KU II pukul 17.00 100 an. Dirasa perlu kalau Gereja punya Sekolah Alkitab, dan didirikanlah Jakarta Bible Institute dengan kelas D3 (Diploma 3 tahun), Sertifikat 10 bulan dan kelas – kelas khusus singkat waktu. Siswa angkatan pertama menamakan dirinya Kelas Pioneer. Ada 30 mahasiswa militan yang sungguh cinta Tuhan, dan kelak jadi awal dari pertumbuhan banyak banyak Gereja di Tanah Air.

Konon ada pemuda asal desa Gambarsari Purwokerto yang rajin melayani bersama pengerja lainnya. Orangnya Ser-Bang, Serius Banget kerja mati-matian, tapi bisa lucu juga. The Boen Thay – si pemuda rambut belah tengah simpatik ini, sering menginjil. Bersama rekan sepelayanan Lie Soen Lip (kemudian menjadi Gembala Senior di GSJA Pecah Kulit dengan puluhan cabang dan anak cabang), mereka naik sepeda. Pdt. Lie Soen Lip mengayuh di depan, The Boen Thay duduk di bangku penumpang. Supaya kelihatan ada andil kerja bareng, The Boen Thay gotong – gotong gitar besar. “Oom The bisa main gitar?” tanya penulis ingin tahu… “Parah deh….tapi kan semua harus di tanggung sama – sama, oom Lie ngenjot sepeda, oom The angkut gitar…adil”

Siswa Sekolah Alkitab langsung pegang pelbagai pelayanan baru. Selain Pdt. Lie Soen Lip yang kemudian jadi Senior Pastor di GSJA Pecah Kulit, adalah Iwan Brata yang mulai merintis di Bogor. Mula-mula Gn. Gede, kemudian berkembang di Jl. Semboja. Fritz Ouw bertugas di Bandung, bersama Pdt. Frans Njoo dirikan pelayanan di bumi Parahiangan.

 

Busby ke Medan – Pdt. The Boen Thay Gembala GSJA Pecenongan

Saat Pdt. Busby melayani di Sumatera Utara, suara jemaat bulat dan Pdt. The Boen Thay jadi Gembala. Gereja berkembang dengan mantap. Jemaat tambah banyak. Pengerja berjuang tanpa pamrih. Untuk membantu Gembala, diperlukan Majelis Gereja yang kompak dan sedia kerja tak pikirkan ego sendiri. Kebanyakan orang–orang awam, bukan jebolan Sekolah Alkitab ternama.

Kelompok Majelis angkatan Pertama: Djiauw Goan Kie – Lie Soen Lip – Yan Chew Wah – Paulus Tan – Oey Giok Soey. Banyak tahun kemudian, susunan Majelis terdiri dari: Khoe Kian Lim – Gouw Tjoan Pie – Lie Kim Tjeng – Simon Widjaja – Lie Soen Tho.

Generasi kemudian, banyak banyak tahun kemudian… Tio Wie Koen – Yahya Haryanto – Budi Handaya – Otong Yusuf. Disamping Majelis ini, Pdt. The Boen Thay diberkati dengan banyak orang awam yang militan. The Hoat Soey, seorang pengerja tinggal di Pintu Air II bersama keluarga. Beliau kehilangan penglihatan dan jadi buta tapi amat sabar dan mengayomi anak-anak muda yang sering berkumpul di belakang Gereja. Tak disadarinya, bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan.

Dulu Pak The Hoat Soey TIDAK TAHU, sekarang sejarah bisa cerita, bahwa dari pekerja Gereja sederhana–buta– ada andil yang dilakukan anak cucunya. Mereka ada dalam pelayanan indah, baik di tanah air, maupun di benua lain – Australia. Ada banyak kisah macam begini. Sejarah selalu cerita bahwa orang yang layani Tuhan tanpa pamrih, akan memetik banyak buah panen raya.

Pak Tjio Tjit Tjeng, selalu sediakan truck besar antar jemput anak Sekolah Minggu. Tan Peng Han, Tio Piet Soey. Oei Koen Liong (Yakub Wiranata), Yusak Wiradi (Thio Wie It), dan banyak lagi anak muda jadi kondektur dan tukang urus anak anak Sekolah Minggu. Sopir truck cadangan adalah Tan Tiong Sin. Cornelius Siahaan, Lim Toan Tjay, semua melayani sungguh sungguh. Tjan Gwan Bo, pengusaha kayu kondang yang siap jadi sopir pergi semacam mission trip. Tio Wie Koen selain pekerja juga jadi sobat membagi rasa.

Urusan Praise and Worship, di dukung musisi musisi: Van Sluijs, Mamesah, Tjong Soen, Pasaribu, Tio Boen Soey dan adiknya Tio Piet Soey, Tan Kiang Hin. Pak Tee Eng Ho, eksekutif bank rajin mengajar Kolintang dan Angklung. Banyak tahun kemudian muncul ahli musik serba bisa Martin Thenu yang bertahun – tahun bergelut di pelbagai Paduan Suara.

Ibu Mien Theng Trisera juga wanita serba bisa. Beliau bak pemain bola berlari kian kemari, Sektor Sekolah Minggu, Divisi Kaum Muda ada dalam pengawasannya. Berkali–kali ada pertunjukan “Tonil”, sandiwara istimewa. Pernah menggelar acara profesionil, beberapa malam di Gedung Kesenian dalam rangka cari dana untuk pembangunan Gereja…

Di balik sukses besar, selalu ada tangan “dingin” Wanita… Tan Sen Nie, Tjiong Kim Na, Tio Tiang Seng, Lim An Nio, The Seng Nio, The Goat Nio, The Liang Nio, bersama dengan Ibu Gembala (So Kiauw Nio). Lakukan banyak perkara… Sering urusan ketil kecil imut, tapi besar dalam pandangan Surga.

 

Perlu Perluasan – Sudah sempit nih!

Sekitar tahun 1958, semua bagian di Pecenongan 54 terpakai maksimum. Hubungan antar jemaat luar biasa akrab. Di belakang Gereja, ada sebidang tanah cukup luas milik seorang tuan Tanah. Tjoa Liang Han – seorang awam, didukung oleh jemaat seia sekata, mengikhtiarkan pembelian tanah tersebut. Perundingan berlangsung alot, dan banyak pendekatan manis dilaksanakan, yang akhirnya membuat sang Tuan Tanah jadi berbalik perasaan jadi semacam teman, dan ijinkan Pintu Air II no 4 – 6 di jual.

Konon ada Tuan Tanah lain yang punya sebidang properti di Batutulis. Rupanya kedua Tuan Tanah ini bersahabat, dan dengan besar hati, Tjoa Liang Han di rekomendasi untuk jadi pembeli dari bidang tanah Batutulis 43. “Sssst… Mereka memang Kristen, tapi Kristen yang ini baik – baik lah“ Begitu pesan Tuan Tanah pertama asal Timur Tengah kepada kawannya.

Amboi. Kas Gereja baru terkuras dengan pembelian Pintu Air II. Itupun pakai cicilan pelan–pelan. Apa yang kemudian terjadi — kurang bisa dipahami dengan nalar dan akal sehat. Belas Kasihan Tuhan amat berkelimpahan, KemurahanNya selalu baru tiap pagi…. dan tiba-tiba, akta notaris ditandatangani, dan persil batutulis jadi milik Gereja. Puji Tuhan! Puji Tuhan!

Tentu kisah sebenarnya tidak sederhana begini… Ada banyak air mata…ada banyak lutut kebas banyak doa… Penulis teringat kesaksian pak Tjoa. Satu waktu, ketika pembangunan Batutulis berlangsung, kas kosong sama sekali. Hari itu adalah hari Minggu dan Tjoa Liang Han yang jadi ketua pembangunan minta ijin naik mimbar. Ia bicara singkat, cuma cerita bahwa pembukuan merah, dan Senin perlu ada pembayaran. Sebelum turun, dengan air mata tergenang ia berkata pelan “kas memang kosong… tapi Tuhan kita kaya” Ucapan Tuhan kita kaya bergema bagai disetel dengan sound system abad ke XXI. Jemaat hening terdiam.

Tiba–tiba, seorang mak tua, baju kebaya lusuh, jalan terseok seok ke depan. Jemaat kenal siapa beliau, seorang janda miskin yang tinggal tak jauh dari Gereja. Depan mimbar, ia lepaskan cincin kawinnya, satu–satu harta milik peninggalan almarhum suaminya, Dan dengan cucuran air mata, ia sampaikan, bahwa satu-satu miliknya… buat Tuhan Yesus. Kemudian ada heboh besar di Jemaat. Berlomba lomba mereka maju kedepan. Ada perhiasan yang diserahkan, ada uang kontan…ada janji iman…

Ditahbiskanlah GSJA Batutulis 43. Gedung solid dengan kubah istimewa. Dua pilar besar di depan. Gagah! Arsitek adalah Ir. Van Der Wege dengan konsultasi pada arsitek kondang Ir. Frederich Silaban. Pembangunan fisik di kelola oleh sebuah perusahaan dari Semarang. Romulus Seleky pemuda Gereja yang jadi building manager. Tanya pada tembok sekelilingnya, mereka bisa cerita bagaimana kepakNya menudungi pekerjaan besar ini. Di bawah SayapNya semua berlindung. KesetiaanNya ialah perisai dan pagar tembok…. Tanya pada jenang pintu. Betapa banyak air mata tercurah. Betapa bulat yang namanya iman! Betapa erat persaudaraaan saat itu. Tanpa pamrih.

 

Di Bawah Penggembalaan Pdt. Jetro Bunjamin

Ada banyak sekali Gereja–Gereja yang bermunculan semasa penggembalaan Pdt. Jetro. Pengerja–Pengerja militan, alumnus Jakarta Bible Institute, bak berlomba-lomba buka perintisan. Selain GSJA Pecah Kulit – Pdt. Lie Soen Lip, GSJA di Bandung (Iwan Brata) kemudian di gembalakan oleh Pdt. Fritz Ouw bersama Pdt. Frans Njoo. Pdt. Oey Han Sit yang di utus Batutulis, melayani di Cimahi, diteruskan oleh Pdt. Aries Awuy.

  • GSJA Grogol dengan belasan Cabang dan Anak Cabang
  • GSJA Pademangan bermula SM di rumah Tante Lukas kemudian jadi Gereja dengan
    sekian banyak Cabang
  • GSJA Kebon Kosong, Pdt. Yusak Wiradi
  • GSJA Duri A 3, Pdt. Tjong Hok Lie
  • GSJA Cempaka Putih, Pdt. Ibu Tjhoeng
  • GSJA Pal Putih, Pdt. Tan Peng Han
  • GSJA Kebayoran Lama, Pdt. Khoe Kian Lim
  • SM Kemurnian yang kemudian berkembang jadi GSJA Kemurnian

Karena peraturan pemerintah mengharuskan tanah kosong dipergunakan, tahun 1962, berdiri Sekolah Bethanie. Sebuah sekolah yang populis dengan 700 siswa saat itu. Mulai Taman Kanak-Kanak sampai Jenjang SMEA. Pak Tjoa duduk sebagai ketua Yayasan bersama Oei Goen Bie.

 

Pembelian Tanah Sebelah Gereja, Jl. Batutulis 43A.

Ini seru, sebab dari awal keluarga ini tidak setuju dengan adanya Gereja di Batutulis. Berkali–kali keluarga ini dihubungi, dengan permintaan – apabila ingin menjual, mohon berikan kepada Gereja. Berkali kali pula, disebut angka yang berubah-ubah. Nilai 400 juta yang disepakati, tiba tiba jadi 400.000 USD. Kemudian, tanah ini dijual bukan kepada Gereja tetapi kepada orang lain. Sulit menceritakan aneka perasaan yang memendam dalam dada pengerja–pengerja GSJA Batutulis… “Tuhan kita kaya… Tuhan kita ajaib “Dengan cara yang aneh bin ajaib, sang pembeli yang merupakan pemilik baru, tiba-tiba bersedia menjual persil idaman tersebut kepada Gereja”.

Drs. Leo Mulyadi, menjadi ketua Panitia pembelian lahan tersebut. Tergolong BoNek (Bondo Nekad), ia mengajak bendahara Gereja bertamu ke rumah pemilik lahan. Jumlah dana di Kas Gereja, hanya 70 juta – an, digerus renovasi besar di gedung utama yang sedang dikerjakan. Dalam negosiasi itu, tim Gereja tercengang-cengang, karena harga tanah yang ditawarkan mula mula tiba-tiba bisa ditawar senilai 40 persen. Ini Keajaiban pertama. Keajaiban kedua, adalah kesediaan penjual untuk terima pembayaran dalam bentuk cicilan. Saat itu juga uang muka diserahkan, dan rombongan Batutulis pulang mencubit cubit kulit sendiri, merasa alami mimpi tidak nyata.

Banyak tahun kemudian (2016), penulis bertemu dengan salah seorang direktur dari pihak yang menjadi pembeli persil ini. Sang Direktur cerita, bahwa dalam setiap rapat direksi, semua Tim Manajemen sepakat ingin sekali membeli tanah tersebut untuk perluasan kantor mereka. Satu saat, dengan kecewa mereka lihat, bahwa tanah tersebut sudah jadi milik Gereja. Yang tidak mereka ketahui bahwa owner perusahaan sendiri (sic) – sudah membeli persil 43A dan kemudian – entah apa yang jadi – menjualnya kembali kepada GSJA BT 43. Ketika rombongan Batutulis bermodal 70 juta saja menawar nilai di atas satu Miliar…. keanehan besar terjadi…

Bagaimana runtutan kisah sebenarnya yang ada di balik jual – beli ini , sungguh misterius tak terpahami…Tapi bukankah Allah yang kita sembah sering berkarya dengan cara dan gaya ‘Tidak Biasa”..?

Dengan mantap GSJA BT 43 melaju kedepan. Semua bagian berkarya dengan gempita. Karena Jakarta merupakan pintu masuk Nusantara, GSJA BT 43 sering menjadi persinggahan Hamba Tuhan luar Negeri. Sesekali ada bantuan keuangan yang lewat, biasanya tidak dikelola sendiri, tapi disalurkan kepada banyak Gereja yang membutuhkan. Sejarah banyak Gereja bisa bercerita, bagaimana GSJA BT 43 dengan besar hati bergumul menjadikan banyak Gereja yang sedang bertumbuh sebagai penerima bantuan luar. GSJA BT43 adalah Gereja yang suka memberi…..

GSJA BT43 adalah Gereja yang misioner…… Tidak lama sesudah renovasi besar gedung utama selesai, dimulailah pembangunan gedung empat tingkat di atas persil tanah yang banyak hawa mujijat ini…..

 

Pdt. Benjamin Widjaja dan Departemen Misi Batu Tulis

Dalam satu kurun Pdt. Benjamin Widjaja duduk sebagai anggota Majelis. Beliau organisatoris yang mumpuni. Cakap membina – networking, baik dengan Hamba Tuhan dalam Negeri, maupun Luar Negeri. Perhatian kepada jemaat juga manis. Sering kali ingat di luar kepala tanggal–tanggal penting, seperti ulang tahun, anniversary dan sebagainya. Oleh banyak pihak ia dianggap berani lawan arus – pendobrak, dan komitmen sangat tinggi.

Semasa keterlibatan dalam pelayanan di Batutulis, dibentuklah sebuah kebaktian Tengah Minggu yang sangat populer. Targetnya kaum muda. Selalu penuh sesak. Saat itu, tim musik Batutulis sering mendapat pujian dari Hamba Tuhan yang kelak terlibat banyak dengan urusan Praise and Worship seperti Pdt. Ir Timotius Arifin. Seminar – Seminar Pdt. S. Damaris diselenggarakan dengan bantuan pemuda pemudi Batutulis yang rajin, tercatat banyak nama: Simon Christian, Awei Lim Kurniawan, Victor Bintara, Herlina, Gigin Gideon Ginawan.

Ketika menginterview beberapa Jemaat yang dahulu digembleng di bawah kepemimpinan Pak Ben, jawaban mereka satu nada. Pak Ben amat piawai melakukan mentorship. Beliau tidak peduli latar belakang calon anak didik. Apakah berperilaku baik, atau anak nakal sukar di atur. Selalu ditangani serius. GSJA Batutulis sering jadi tempat singgah dan rapat dari kegiatan–kegiatan besar skala Nasional. Kasih Melanda Jakarta. Kasih Melanda Indonesia…

Pdt. Ben populer hingga sering disebut sebagai Wakil Gembala. Rupanya ada kisah di balik sebutan ini.
Banyak tahun lalu, dalam sebuah rapat BPD berlangsunglah pentahbisan para Hamba Tuhan. Pelayan Injil, Pendeta Muda dan sebagainya. Umumnya mereka berkostum lengkap. Jas dasi resmi bagi pria. Blazer rapih bagi wanita. Di antara calon yang di tahbiskan hari itu, Pdt. Benjamin Widjaja tampil tanpa pakai Jas, hingga menyolok di antara peserta lain yang rapi-jali.

Depan banyak peserta, Pdt. Jetro Bunjamin membuka Jas yang beliau pakai, dan mengenakannya kepada Pdt. Ben, agar tampil satu nada dengan kolega nya. Peristiwa ini di tanggapi sebagai simbol penyerahan Jubah Elia kepada Elisa, sebab itu Pdt. Ben Widjaja secara informal seolah jadi wakil Gembala senior Batutulis.

Pdt. Ben Widjaja memiliki banyak sahabat – Hamba Tuhan luar dan Dalam Negeri. Bukan saja kelas celebrity” papan atas , tapi juga Hamba Tuhan di daerah terpencil dan terkucil. Beliau gemar menyelenggarakan “Mission Trips” dan mengajak Jemaat untuk ikut serta.

Banyak Jemaat jadi sangat Misioner. Bp. Haryanto Suwandi, Pdt. Sebastian Sugiharto, Bp. Chandra Gunawan, merupakan pribadi yang dilatih berjiwa Misi. Di kalangan kaum muda, sering sekali di adakan Mission Trip kelas “back packers“ berangkat sesederhana mungkin. Simon Christian masih bisa ingat bagaimana di satu desa di Jawa, mobil Kijang mereka mogok di sebuah daerah ‘no-where’ Sesudah dorong yuk dorong yuk, rasa pertolongan Tuhan dan semua berakhir happy end.

Selama berkarya di Batutulis – ada banyak sekali Hamba Tuhan daerah terpencil yang didukung sungguh lewat pak Ben. Tidak heran, atas prakarsa beliau kemudian terbentuk Departemen Misi Batutulis. Sejarah menoreh, banyak pribadi berkecimpung di sini. Bp. Eddy Poernomo, Bp. Harry Sadeli, Bp. Hendra Sinjaya, Bp. Iwan Nusjirwan, Bp. Thomas Herry , Bp. Ridwan Kusnadi merupakan pengerja Misi tangguh.

 

Pdt . Stefanus Wirawan M. Min.

28 Februari 1999 – Pdt Jetro Bunjamin dalam usia 80 tahun menjadi Penasehat dan atas permintaan Majelis dan Jemaat, BPD mengangkat Pdt. Stefanus Wirawan sebagai Gembala. Pdt. Stefanus bukan orang baru. Dalam usia belasan tahun, ia sudah berkiprah banyak dalam Ladang Tuhan yang berhubungan dengan Pecenongan Batutulis. Sebagai ketua PPUK (Pemuda Pemudi Utusan Kristus – Christ Ambassadors – menggantikan Pdt. Yusak Wiradi) sejak dahulu populer di kalangan kaum muda. Ia pekerja keras. Militan sekali. Bersama – sama Kaum Muda sering keliling Jakarta menyebar traktat. Tiada Pasar Malam, atau Keramaian besar yang tidak mereka jadikan ajang memperkenalkan Tuhan Yesus kepada dunia.

Tiap Sabtu, ada heboh besar di Pintu Air II. Kaum Muda jumlah besar berkumpul, bina hubungan, olah raga , dan persiapkan diri untuk pelayanan Minggu. Dari kelompok kaum muda ini, hampir semua akhirnya terlibat pelayanan dan jadi tokoh pendorong di pelbagai Gereja di Indonesia. Beliau tercatat sebagai anggota Majelis paling muda dalam jajaran di GSJA BT43. Sebagai ketua BPD DKI beberapa periode, dan Wakil Ketua BPP GSJA Indonesia, suatu kurun waktu menjadi Gembala di GSJA Kemurnian (berkembang dari Sekolah Minggu yang didirikan oleh Tim Batutulis djaman dahoeloe).

Dalam Penggembalaan Pdt. Stefanus Wirawan, terjadi banyak gebrakan besar. Munculnya Cabang – Cabang GSJA yang langsung berada di bawah mentorship BT43. Beberapa kemudian jadi Gereja Mandiri yang kemudian punya Cabang, dan Cabangnya melahirkan (cucu) Cabang lagi. Gereja – Gereja tersebut adalah: (Mohon maaf, nama Pendeta tidak di tulis sertai gelar akademis mereka) Gereja Sidang Jemaat Allah:

  • KOSAMBI – Pdt. Esther Kolondam
  • PEKAYON – Pdt. Sutanto
  • GADING SERPONG – Pdt. Sukamto
  • MERUYA – Pdt. Roy Lempoy
  • BEKASI – Pdt. Yesaya Buraren
  • MUARA KARANG – Pdt. Hizkia Pasaribu
  • SUNTER – Pdt. Ridwan Silalahi
  • RAJAWALI – Pdt. Milka Ramli
  • JEMBATAN V – Pdt. Thomas Herry
  • PONDOK DAUD – Pdt. Lena Tambunan
  • MEKAR SARI – Pdt. Rostiana Zogara
  • LENTENG AGUNG – Pdt. Hotli Manurung
  • RHEMA GUNUNG SAHARI – Pdt. Egawati Hadinata
  • KEBAYORAN LAMA – Pdt. Paulus Tjhung
  • CITRA V – saat ini dijabat sementara Pdt.Evan Leopard, sebelumnya Pdt. Dante Indarta
  • PALEM LESTARI – Pdt. Inge Hendradjaja

Dalam era kepemimpinan Pdt. Stefanus Wirawan, IES – International English Service — Kebaktian Berbahasa Inggris (saat ini di UOB Plaza Jl. Thamrin) menggabungkan diri sebagai salah satu Gereja secara formal disponsori oleh GSJA BT43. Senior Pastor Pst. Dave Kenney. Kelak Gereja ini rajin mengembang dengan membuka beberapa cabang, termasuk kebaktian bahasa Indonesia (2016)

Dibawah penggembalaan Pdt. Stefanus Wirawan juga dibentuk sebuah Akademi Theologia Amanat Penuaian Terakhir yang merupakan kerjasama antara GSJA BT 43 dengan APT Foundation USA di bawah pimpinan Rev. Andrew Taylor. Sampai hari ini atas kemurahan Tuhan sudah bergulir 14 angkatan, dengan sekitar dua ratusan (200) alumnus. Banyak di antara mereka ada di peloksok tanah air, melayani Tuhan Yesus Kristus Juruselamat. Rev. Andrew Taylor menyokong sebagian dana operasionil, dan rajin mengirim dosen tamu dari luar negeri untuk meningkatkan mutu AT APT. Saat ini, Sekolah Alkitab ini terdaftar dan diakui oleh DPPI GSJA.

Dalam kurun penggembalaan Pdt. Stefanus Wirawan juga, atas kemurahan Tuhan, telah berdiri dua buah Asrama Mahasiswa. Satu di Batutulis untuk mahasiswi dan satu di Pasar Baru untuk Mahasiswa. Kedua asrama ini bersertifikat, atas nama GSJA.

Anak anak yatim piatu juga diperhatikan. Dalam penggembalaan Pdt. Stefanus didirikan Panti Asuhan Graha Anugerah. Sosok Pdt. Stefanus Wirawan yang selalu serius, tekun, pekerja keras, tidak suka becanda, sering menjadikan jemaat dan pengerja, agak sungkan untuk bicara rileks.

Pandangan ini tidak sebetulnya benar. Beberapa sahabat seperti Pdt. Tjak Kaihatu, Pdt. Jonathan Pribadi, bisa cerita bahwa beliau tokoh yang hangat. Di tengah kegiatan menyelesaikan pendidikan M Min dari sebuah Universitas di Luar Negeri, secara periodis mengundang penulis (saat itu wakil AGBF dan penanggung jawab Buletin AGBF) bertemu hari Sabtu untuk makan siang bersama, sambil ngobrol “ngalor ngidul“ baik yang berurusan dengan pelayanan atau tidak.

Djaman doeloe – saat aktif dalam bidang bisnis, Pdt. Stefanus banyak berhubungan dengan rekanan dari Jepang. Ini menyebabkan beliau tahu banyak prihal tata cara warga negara Sakura. Makanan Jepang juga sering jadi kesukaannya.

Ketika Cucu pertama – Jason Wirawan – lahir, Pdt. Stefanus memperlihatkan segi “family man” secara utuh dan konsisten. Sering datang menyambangi, hanya untuk ajak cucu jalan-jalan. Saat itu pasti bukan hanya interaksi kakek –cucu berlangsung, tapi banyak impartasi moral, etika, yang disampaikan dengan bahasa anak kecil (Jangan lupa ia dahulu jadi guru SM juga loh) Hari Rabu, hari khusus. Bersama isteri Ester Azarja, mereka bertiga cucu makan siang sama sama. Tidak ada orang lain dalam family day ini.

Mundur banyak tahun lagi, putera nya Henoch Wirawan bisa bercerita dalam keluarga acara Mezbah Keluarga tak pernah absen. Pak Stef main gitar, kegiatan ini sangat konsisten dilakukannya. Jadi ingat rapat AGBF, selalu ada acara masuk kamar doa dulu…

 

Pdt . Piter Buntoro S. Kom.

Dari Dadu, Jangkrik, Panjat Pohon Tetangga Diubahkan secara total.

Lahir di Jakarta, tanggal 20 April 1970 tinggal di Jl. Kingkit 1 No. 10 – Jakarta Pusat (posisi belakang Sekolah Kristen Bethanie). Lingkungan kurang kondusif, jadi orang tua terpaksa bebaskan anak–anak bergaul dengan siapa saja. Dari kecil tergolong bandel. Jarang belajar, suka ‘ngelayap’ sampai nun jauh di sana. ’Koprok – Domino – Adu Jangkrik, adalah hobinya. Sesekali melirik pohon di sekitar, untuk dicuri buahnya saat tetangga lengah. Kebiasaan seperti ini yang membuat Piter Buntoro kecil tergolong jahil, lumayan jago berkelahi dan gemar judi. Apalagi sejak SD kelas I, di ikutsertakan dalam olah raga beladiri Karate.

Puji Tuhan! Meskipun orang tua jarang ke Gereja, mereka wajibkan semua anak–anak tiap Minggu pagi ikut Sekolah Minggu Pecenongan. Terutama Mama yang kontrol dengan ketat. Bila enggan pergi – tak ayal uang jajan untuk hari tersebut tidak diberikan. Indah Karya Tuhan, yang turut bekerja dalam segala perkara, karena diusia kanak-kanak yang kritis ini, sudah terjadi pengenalan akan Khalik Maha Mulia.

Saat SMP, murid Sekolah Minggu “naik jenjang“ ke Kebaktian Remaja Batutulis. Dalam sebuah Acara Youth Camp di Linggar Jati tahun 1985, Pdt. Ir. Timotius Arifin mendoakannya, dan Piter Buntoro terima kepenuhan Roh Kudus. Inilah awal Pengiringannya layani Tuhan jadi amat serius dan sungguh – sungguh. Hidupnya diubah total.

Piter Buntoro jadi remaja yang suka berdoa. Baca Firman Tuhan. Beribadah dengan rajin, melayani Tuhan serta mulai bersaksi dan bawa jiwa. Rasanya tidak ada hari tanpa Gereja. Rasanya hampir setiap hari ada di gereja. Minggu di Kebaktian Remaja, kemudian ikut Kaum Muda (sekarang Kebaktian Umum 2) dan kadang-kadang Kebaktian Umum sore (sekarang Umum 3), Senin Bidston – Kebaktian Doa, Kamis Persekutuan Tengah Minggu yang selalu ramai, Sabtu sore Kebaktian Doa, Sabtu malam biasanya ada latihan ensemble musik Yehesaf, dan di hari-hari lain selalu ikut Rapat – Kegiatan Olah Raga – KTB – Penginjilan dan lain lain yang nuansanya pelayanan.

Pelayanan pertama di GSJA Batu Tulis sebagai usher, kemudian ikut ensemble musik Yehesaf dan aktif di Kebaktian Remaja. Kemudian banyak di tawarkan mengisi kegiatan di Kebaktian Kaum Muda dan Umum. Macam – macam jenis. Mulai jadi Usher, OHP, Perlengkapan, Ketua Remaja Camp, Konselor, Song Leader, Singer, Urus – Urus Acara, Majalah, Doa, Ketua Sound System, Guru Remaja, Ketua BPH Kebaktian Remaja, dll. dll.

 

Mulai Pelayanan Formil.

Pada tahun 1997-2000 dipercayakan untuk menjadi ketua Kebaktian Remaja. Puji Tuhan saat itu Kebaktian Remaja mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kehadiran rata-rata tiap Minggunya mencapai 150 orang. Karena sejak muda remaja sudah kenyang makan asam garam pelayanan, saat jadi Ketua Remaja, ia ditugaskan Pdt. Stefanus Wirawan untuk mengembangkan Sekolah Minggu dan KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang sudah ada di Kosambi Baru agar dapat berkembang menjadi gereja cabang.

Saat itu juga Pdt. Piter menjabat sebagai Pembantu Direktur II Akademi Theologia APT – secara khusus membawahi urusan keuangan Akademi. Setelah melalui doa, puasa dan peneguhan dari Tuhan, serta tentu dapat persetujuan isteri, maka pelayanan di Kosambi Baru pun dimulai.

 

Kosambi

Pelayanan dimulai dengan masuk dalam KTB serta membantu mengajar di Kebaktian Sekolah Minggu. Pada hari Selasa, tanggal 6 Juli 1999, KTB diubah menjadi PTM (Persekutuan Tengah Minggu) dan diadakan ibadah perdana pukul 19:00 bertempat di Jl. Angsoka Hijau III blok E 3 No. 2 – inilah tempat yang dibeli oleh GSJA Batu Tulis – saat ini gereja berdomisili di sini. Atas pertolongan Tuhan PTM ini boleh tumbuh, sehingga kemudian diadakan Kebaktian Umum yang dimulai pada hari Minggu, tanggal 7 Mei 2000, pkl 08:00.

Kebaktian Umum terus berkembang, sehingga pada tanggal 2 Juli 2001 dilakukan renovasi. Tuhan Yesus baik, atas pertolongan dan anugerah-Nya GSJA Batu Tulis cabang Kosambi Baru melesat dengan cepat. Dibukalah Kebaktian Remaja, Kebaktian Umum 2, Kebaktian Kaum Wanita serta Kebaktian Kaum Pria. Selain melayani di Kosambi, awal 2003 Pdt. Piter Buntoro membuka Pos PI di Bojong yang penggembalaannya diserahkan kepada Sdri. Jojor Masro Uli.

Di tempat ini sempat diadakan KKA, tetapi diresolusi oleh penduduk setempat, yang keberatan jika di daerah mereka ada tempat ibadah. Juli 2003, disewalah sebuah lokasi di Rawa Buaya. Jl. Madrasah I/13A RT 06/RW 04 . Di sini dilangsungkan Kebaktian Sekolah Minggu dan KKA. Kembali ada tantangan. Penyewa berkeberatan kalau asetnya jadi tempat Ibadah. Tempat baru sulit dapat ijin warga. Dengan demikian perintisan di daerah Bojong dinilai tidak kondusif untuk pembukaan Ibadah.

Di rumah seorang jemaat Cengkareng Timur, Bpk. Jontaris Tamba di Jl. Akasia Raya RT.15/ RW.12, diizinkan untuk buka Kebaktian Sekolah Minggu. Acaranya tiap Selasa pukul 16.00. Kehadiran rata-rata ±20-25 anak. Karena berkembang baik, tahun 2008 disewalah sebuah rumah di Cengkareng Timur untuk digunakan sebagai Pos PI . Lokasi tak jauh dari area SM. Gembalanya: Sdr. Jannes Sitinjak. Di Pos PI Cengkareng Timur ada Sekolah Minggu (50 anak) dan KKA (20 jiwa). Bermula dari kesibukan bagus di sini, oleh Pdt. Esther Diana Kolondam Lusli disewalah sebuah bangunan di Daan Mogot yang kemudian menjadi GSJA Cabang Daan Mogot.

 

Kembali ke Batutulis

Tahun 2009, Pdt. Stefanus Wirawan menempatkan Pdt. Piter di Batutulis sebagai Wakil Gembala. Sebelumnya sudah berkali–kali hal ini diungkapkan, dan dengan kesehatan yang menurun dari Gembala Senior, Pelayanan Kosambi di serahkan kepada Wakil Gembala setempat Pdt. Esther Diana Kolondam Lusli. Dalam Ibadah Tahun baru 2009, diperkenalkanlah “muka lama“ ini di Jemaat Batutulis. Tugas utama adalah membantu pelayanan penggembalaan Pdt. Stefanus Wirawan, khususnya memajukan kembali KTB (Kelompok Tumbuh Bersama)/Care Cell yang sudah tidak aktif lagi pada saat itu, Juga ditugaskan untuk membantu pelayanan kedukaan, membuat pendataan jemaat, sebagai pembina di Kebaktian Remaja dan Kaum Muda, serta pembina di Kebaktian Sekolah Minggu 1,2 dan 3.

 

KKA di GSJA Batu Tulis

Sehubungan dengan tugas memajukan KTB/Care Cell, dikumpulkan kembali semua ketua KTB/Care Cell yang pernah ada untuk mulai aktif lagi. Sistem yang ada disesuaikan dengan keadaan setempat dan namanya diubah jadi “Kelompok Keluarga Allah” yang disingkat “KKA”. Dalam perkembangannya KKA-KKA dibuka kembali dan diusahakan agar di semua kebaktian ada kegiatan KKA. Bagi KKA yang anggotanya sudah banyak dilakukan multiplikasi.

Pada Desember 2010 jumlah KKA telah mencapai 48 KKA. Ada kendala di pengurusan, hingga masalah muncul di sini dan di sana. Awal Januari 2014 dibuat peraturan perbaikan dari problematik ini. Semua KKA 38 – 39 yang berjalan, pengurus wajib ikut latihan yang di tentukan. Saat itu ada 28 KKA ikut pelatihan, dan kemudian 23 berjalan baik. Dengan pengurus yang berkomitmen, keadaan di tiap KKA menjadi sehat dan pelaksanaannya pun berjalan bagus. Pertumbuhan pelan-pelan terjadi. Agustus 2014 sudah mencapai 33 KKA.

Mulai tahun 2015, KKA menggunakan sistem Konvensi KKA, Berdasarkan elemen yang sudah disepakati, masing – masing KKA berlomba untuk berkembang makin baik. Semua tercatat dalam Laporan Evaluasi Kegiatan KKA. Setiap kali ada pelaksaan KKA, harus ada laporan kegiatan yang dikumpulkan. Berdasarkan ini diberi nilai. Konvensi ini menimbulkan semangat baru. Sekarang banyak KKA bermultiplikasi dan rindu melakukan: “Do Something”.

 

Pelayanan Kedukaan

Untuk dapat memberikan pelayanan yang cepat dan lebih baik kepada jemaat yang mengalami duka cita karena ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, maka diangkat Bpk. Andreas Puji Sutanto sebagai staff yang membantu dalam pelayanan kedukaan. Dengan adanya staff khusus ini maka dengan cepat tindakan dilangsungkan. Pelayanan khusus ini berjalan amat baik.

 

Pendataan Jemaat

Guna membuat pendataan yang lengkap mengenai jemaat yang ada di GSJA Batu Tulis, Ibu Jani Srijantari ditugaskan untuk membereskannya. Di Sekretariat Gereja ada data. Kemudian dengan metode rapih terarah, data Jemaat dikumpulkan. Atas pertolongan Tuhan, pada Maret 2012 Pendataan Jemaat yang lebih lengkap dan up to date siap. Segera tampak, mana anggota, mana calon anggota.

 

Kebaktian Remaja dan Kaum Muda

Dalam rangka menciptakan kembali kegairahan dan Roh yang menyala-nyala di antara Remaja dan Kaum Muda diadakan Kebaktian Kebangunan Rohani khusus untuk Remaja dan Kaum Muda yang diberi nama Youth Celebration. Youth Celebration dilayani oleh gabungan pengerja dari GSJA Batu Tulis dan cabang-cabang. Dilangsungkan beberapa kali dengan tema “Rise Up”. Acara ini sangat disukai oleh Remaja dan Kaum Muda baik di GSJA Batu Tulis maupun di cabang-cabang.

Acara puncak berbentuk Camp Gabungan pada tanggal 21-23 September 2009, di Puncak Kana – Cipanas, dengan pembicara Pdt. Surjadi Sunarko dan Pdt. Petrus Tarigan. Banyak Remaja dan kaum Muda yang bertobat dan menerima Kepenuhan Roh Kudus. Agar roh yang ada tetap bersemangat dan menyala-nyala, diadakan kembali 2 KKR dengan nama Kingdom Celebration dengan tema: “Fulfill Your Calling for His Glory” dan “Burn It Out”.

 

Kebaktian Sekolah Minggu

Dalam rangka membangkitkan kecintaan anak-anak akan Tuhan dan mengembangkan telenta anak-anak serta menumbuhkan kesukaan akan Firman Tuhan, diadakan Camp SM Gabungan dan juga Precious Kids Festival (saat libur sekolah). Acara-acara ini sangat disukai oleh anak-anak SM.

 

Dipercayakan Memimpin Kebaktian Umum 3

Sehubungan dengan menurunnya kesehatan Pdt. Stefanus Wirawan sehingga beliau tidak dapat lagi mengikuti Kebaktian Umum 3, dalam Rapat Majelis tanggal 11 April 2013 Pdt. Piter Buntoro dipercayakan untuk memimpin Kebaktian Umum 3. Puji Tuhan dalam waktu Sembilan bulan kehadiran jemaat bertambah dari rata-rata 78 orang tiap bulan (Januari s/d Maret 2013), bertambah menjadi kehadiran 143 orang tiap bulan selama April s/d Desember 2013.

 

Gembala Sidang GSJA BATUTULIS

Dalam rapat anggota, Pdt. Piter Buntoro terpilih menjadi Gembala Batu Tulis periode 2013 – 2018.

Visi GSJA Batu Tulis adalah:

  • Gereja yang hidup dekat dengan Tuhan
  • Gereja yang penuh kasih
  • Gereja yang misioner

Sehubungan dengan Visi, dicanangkan Visi jangka pendek (1-2 tahun yang akan datang):

  • Gereja yang memiliki KKA yang sehat
  • Gereja yang memiliki ibadah yang membangkitkan inspirasi
  • Gereja yang misioner

Visi jangka panjang (3-5 tahun): Gereja yang memberikan pelayanan yang baik kepada jemaat.

Strategi yang digunakan untuk mencapai visi tersebut berfokus pada 8 Pilar pertumbuhan gereja.

 

Pelayanan Pengembalaan

Dalam pelayanan pengembalaan hal-hal yang telah dilakukan:

  • Membentuk tim pendoa syafaat yang berdoa di gereja pada hari Senin s/d Sabtu.
  • Pembukuan dengan system akuntansi.
  • Memberikan Rekap Laporan Persepuluhan kepada jemaat setiap tiga bulan sekali
  • Memperbaiki aturan kerja bagi staff gereja: Kini jam kerja adalah 40 jam/minggu, wajib ikut KKA – Doa dan Rapat, Adanya Cuti-Lembur dan perbaikan di semua lini perhonoran.
  • Melakukan amandemen AD-ART.
  • Membentuk Struktur Organisasi baru: Sekarang ada 4 Departemen, Operasional,Ibadah, KKA dan Departemen Misi. 3Staff khusus diangkat mengkordinirdepartemen ini agar tiap visi di monitor baik-baik.
  • Membentuk Steering Committee KKAyang bertugas memikirkan segala halyang ada hubungan dengan KKA,
  • Adanya standarisasi dalam pelayanan yaitu :
    • Setiap pengerja yang melayani harusmengikuti ibadah doa minimal 1(satu) kali dalam sebulan.
    • Setiap pengerja yang melayani harusberjemaat di Kebaktian Umum di luarwaktu pelayanan.
    • Setiap pengerja yang melayani harustelah lulus kelas Christianity Firstsesuai dengan bidang pelayanannya.
  • Berhasil meningkatkan mutu ibadah sehingga ada kenaikan kehadiran rata-ratadari total kehadiran rata-rata KU 1,2 dan 3 (611 orang tiap bulan selama tahun2013) menjadi total kehadiran rata-rataKU 1,2 dan 3 (723 orang tiap bulan selamatahun 2015).

 

Cita-cita / harapan

Rumah tangga hidup rukun dan saling mengasihi (Mazmur 133:1) serta menghasilkan anak-anak keturunan ilahi (Maleakhi 2:15), sehingga menjadi berkat buat banyak orang, dan nama Tuhan dimuliakan (Matius 5:16).